Salah satu daya tarik utama buku ini adalah kemampuan Stolwijk untuk mengaitkan catatan sejarah yang berdebu dengan pemandangan Aceh yang dapat kita lihat hari ini. Dengan bahasa yang mengalir dan narasi yang apik, buku ini menggabungkan penelitian mendalam dengan sentuhan jurnalistik, memberikan cerita yang tidak hanya informatif tetapi juga mendalam dan memikat.
Jika Anda tertarik pada sejarah yang hidup dan ingin memahami Aceh dari perspektif yang lebih luas, “Aceh: Kisah Datang dan Terusirnya Belanda dan Jejak yang Ditinggalkan” adalah panduan yang menarik dan menggugah.
Dalam “Antara Daerah dan Negara: Indonesia Tahun 1950-an,” pembaca diajak untuk menjelajahi zaman yang penuh warna dan kompleksitas ini melalui dua belas artikel yang mendalam. Buku ini membawa kita untuk melihat ulang konsep ‘daerah’ pada periode kontroversial tahun 1950-an, suatu masa yang seringkali diabaikan dan dihujat.
Dalam kelanjutan epiknya, Anthony Reid membawa kita lebih jauh ke dalam keajaiban sejarah Asia Tenggara pada periode yang mencakup abad ke-13 hingga ke-18. Jilid kedua, “Jaringan Perdagangan Global,” merinci era ini sebagai periode perubahan dan dinamika yang mencengangkan.
Dalam penelitian yang mendalam, Anthony Reid menghadirkan jilid pertama dari kronik monumentalnya, “Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680: Tanah di Bawah Angin.” Buku ini tidak sekadar menyajikan sejarah, melainkan menghadirkan mozaik hidup masyarakat Asia Tenggara pada periode krusial ini.
“Dekolonisasi Buruh Kota dan Pembentukan Bangsa,” yang disunting oleh Erwiza Erman dan Ratna Saptari, adalah sorotan yang memukau terhadap peran sentral buruh dalam sejarah Indonesia. Buku ini menyajikan gambaran jelas dan mendalam tentang bagaimana buruh tidak hanya menjadi saksi sejarah, tetapi juga penggerak utama dalam proses penting dekolonisasi dan pembentukan identitas bangsa.
“Dunia Revolusi” membuka jendela luas ke dalam kompleksitas periode revolusi Indonesia (1945–1949) dengan mempresentasikan serangkaian naskah penelitian yang melibatkan sejarawan Indonesia dan Belanda. Buku ini menyajikan perspektif yang mendalam dan beragam tentang realitas revolusi, mencakup berbagai kelompok sosial, budaya, dan etnis yang terlibat dalam peristiwa penting ini.
“Kewargaan Pascakolonial di Indonesia: Sebuah Sejarah Populer” karya Gerry Van Klinken membuka jendela luas ke dalam kompleksitas pembentukan negara di Indonesia setelah masa kolonial. Dengan berangkat dari kisah nyata kematian Jan Djong, seorang aktivis lokal, buku ini menyajikan analisis mendalam tentang perdebatan seputar kewargaan yang menggema hingga saat ini.
Diterjemahkan dari pidato kebudayaan Mochtar Lubis di Taman Ismail Marzuki pada tahun 1977, buku “Manusia Indonesia” menyajikan pandangan tajam dan kontroversial penulis terkenal ini terhadap sifat-sifat khas manusia Indonesia. Dengan ketegasan dan kejujuran, Mochtar Lubis mengupas berbagai aspek perilaku manusia Indonesia, menyingkapkan sisi-sisi yang mungkin kurang menyenangkan namun penting untuk dipahami.
Pada tahun 1945, semangat ‘Merdeka!’ mencuat sebagai teriakan yang memulai perang kemerdekaan Republik Indonesia. Namun, apa yang terjadi selanjutnya adalah kisah tak terduga yang diuraikan dengan cermat oleh Harry Poeze dan Henk Schulte Nordholt dalam buku ini. Mereka membuka lembaran baru tentang revolusi, menyelami tidak hanya perjuangan melawan Belanda tetapi juga kebangkitan Republik yang penuh ketidakpastian.